Minggu 17 Juni 2012, adalah hari yang sangat
menggembirakan dalam hidup saya. Hari dimana sebuah jalan menuju salah satu mimpi
mulai menyeruak ke permukaan. “Bermanfaat bagi orang lain” yah itulah satu dari
sekian mimpi yang saya miliki.
Pada awalnya, saya tidak mengerti bagaimana cara
mewujudkan mimpi itu. Tapi seiring berjalannya waktu, semangat yang terus
menggelora dalam diri, mengantarkan saya untuk bergabung dengan KOMPAS
(Komunitas Peduli Masyarakat).
Sebuah komunitas yang lahir dari keresahan
segelintir mahasiswa terhadap problematika bangsa yang tengah dihadapi saat
ini. Dengan semangat berbagi dan berkontribusi pada negeri, komunitas yang
berada di Yoyakarta ini ikut andil dalam menjawab problematika bangsa dengan
sebuah tindakan nyata. Mengajar itulah salah satu cara yang dilakukan komunitas
ini.
Mahasiswa yang tergabung dalam komunitas ini membimbing
dan mengajar anak-anak di sebuah desa di daerah Sanden, Bantul, Yogyakarta.
Khusus saya pribadi, hari ini (17 Juni 2012), hari
pertama saya menginjakkan kaki di desa ini. Saya bersama teman-teman lain,
Anik, Ari, Agus, Ilmi, tiba disana pukul 09.30 dan langsung disambut oleh
senyuman indah dari setiap bibir calon-calon generasi penerus yang luar biasa
kelak. Hal ini membuat kami lupa akan rasa lelah yang baru kami alami dalam
perjalanan menuju desa ini.
Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa, belajar
bahasa inggris, IPS, agama, bahasa jawa, dan lain lain, hingga tiba saatnya
saya berkenalan lebih dekat dengan anak-anak hebat ini. Nada, Lintang, Siti,
Sega, Manda, Taskia, Ema, Danik.
Saya mencoba “memancing” mereka dengan
celotehan-celotehan untuk mencairkan suasana. Dan hasilnya “successful” :D
Kami (saya dan anak-anak) mulai saling
“mewawancarai” satu sama lain. Bertanya nama, sekolah, tempat tinggal, dan
lain-lain.
Banyak hal yang membuat saya terpesona hari ini. Saya
ceritakan beberapa saja (takutnya kebanyakan, ga muat blog nya :P).
Pertama, Pada sesi saling “mewawancarai”, salah satu
dari mereka, Nada bertanya kepada saya “kak Chardian cita-citanya mau jadi
apa?”. (Wow... Sebuah pertanyaan luar biasa yang dilontarkan anak kelas 5 SD.)
Kemudian saya tersenyum dan saya menjawab “jadi pengusaha”. Dia tanya lagi
“kenapa pengusaha kak?”. Lagi-lagi dengan tersenyum saya menjawab “kakak mau
ciptain lapangan pekerjaan buat orang-orang indonesia”. Dia tersenyum dan
berkata ”ouw gitu ya kak”.
Kemudian saya balik menanyainya “kalo Nada
cita-citanya pengen jadi apa?”. Dia menjawab “jadi guru kak”. Dan saya teruskan
”kenapa jadi guru?”. Dia menjawab “biar bisa ngajarin orang-orang, yang ga bisa
terus jadi bisa”.
Nada nanya lagi “kakak hobinya apa?”. Saya jawab
“olahraga (futsal, voli, taekwondo, jogging, renang). Kalo nada?”. Nada
menjawab “Baca dan nulis kak”. Karena penasaran, saya tanya lagi “biasanya yang
dibaca dan ditulis apa?”. Dia menjawab “buku-buku pelajaran, buku-buku minjem
di perpus. Kalo nulis biasanya nulis cerita lucu (maksudnya cerita lucu yang
dialami Nada setiap harinya)”. Dan saya pun hanya bisa berkata WOW dalam hati.
Kedua, Saya terpesona dengan Lintang (kelas 3 SD).
Ketika dia mengoperasikan laptop yang kami pinjamkan untuk mereka, dia menulis
puisi berjudul “IBU”. Entah darimana asal puisi itu, tapi kata-katanya luar
biasa dan cukup menyentuh. Ketika saya bertanya “Lintang hobinya apa?”. Dia
menjawab “baca dan nulis kak”. Saya tanya lagi “apa yang biasanya dibaca dan
ditulis?”. Dia jawab “puisi kak”. (Ouw ya pantes :D)
Kemudian saya bertanya lagi ”emang kalo gede Lintang
mau jadi apa?”. Dia menjawab “dokter kak”. Saya lanjutkan “kenapa dokter?”. Dia
menjawab “biar bisa nyembuhin orang sakit”. Kemudian dengan iseng saya bertanya
“wah kalo Lintang jadi dokter berarti nanti berobat ke Lintang gratis donk?”.
Dia pun menjawab “Emmm.. gratis ga ya...” hahahaha.. dan kami tertawa bersama.
Setelah ngobrol kesana kemari, bercanda, tertawa
bersama anak-anak ini, saya pun mulai menyatu dengan mereka. Tak terlihat kalo
mereka baru bertemu dengan saya hari ini. (kayak udah kenal lama gitu :D)
Akhirnya, kegiatan belajar mengajar pun berhenti
pukul 12.00. Kami mengantarkan mereka pulang ke rumah mereka masing-masing.
Berpetualang menyusuri setiap gang desa dengan sawah di sisi kiri dan kanan
jalan. (So amazing!!!)
Inilah potret kecil dari sebuah optimisme bagi
negeri ini. Negeri ini tidak akan pernah kehabisan stok orang-orang hebat.
Mereka akan selalu ada dan terus bermunculan. Pertanyaannya sederhana, seberapa
besar kepedulian dan kontribusi kita dalam mencetak manusia-manusia hebat itu?
Semoga apa yang dilakukan teman-teman KOMPAS ini
bisa menjadi sebuah isnpirasi bagi mahasiswa-mahasiswa lain di negeri ini,
pemuda pemudi, masyarakat luas, dan semua pihak yang mempunyai keresahan,
kepedulian, dan rasa yang kuat dalam berkontribusi untuk negeri ini. Aamiin...
THINK WITHOUT ACTION IS NOTHING!!!
